Postingan

Dumai, I'm in Laugh...!! (part 1)

Gambar
Jam sudah menunjukkan pukul 19.20 wib. Aku masih menunggu kawan-kawanku yang sejak tadi tidak juga muncul batang hidungnya. Pandanganku tak lepas dari taksi-taksi yang lalu lalang di depanku, sambil berharap salah satu dari taksi itulah yang mengangkut Ocim, Eri dan Andri dari kost mereka. Sudah sejak satu jam yang lalu aku duduk sendirian di lobi bandara internasional Adi Sucipto. Dan sejak satu jam yang lalu pula seharusnya kami sudah check in untuk bersiap-siap terbang menuju Dumai. Padahal aku masih ingat betul, kami sudah bersepakat untuk berkumpul di bandara pukul 18.00 tepat. Sudah sejak dari tadi ku sms mereka bertiga, namun tak satupun membalas. Sudah kucoba telpon pula mereka bertiga, berkali-kali, namun tak satupun telponku yang diangkat.  Seketika aku merasa sangat kesal kepada mereka bertiga. Apa mereka bercanda? Kenapa mereka tak merespon smsku? Kenapa tak ada satupun yang mengangkat telponku? Kurang ajar betul!.  Pikiran-pikiran negatif mulai ...

Moon Over My Obscure Little Town

Stranger Stranger Someone stranger Standing in a mirror I can't believe what I see How much love has been taken away from me My heart cries out loud Every time I feel lonely in the crowd Getting you out of my mind Like separating the wind from the cloud afraid afraid I'm so afraid of losing someone I never have Crazy, oh, crazy Finding reason og my jelously All I can remember When you left me alone Under the moon over my obscure little town As long as I can remember Love has turned to be as cold as December ~A.H.~Padang Bulan~

Balada Seorang Pria (Part # 2)

Gambar
Sebenarnya, selain alasan yang kukemukakan pada bagian awal dari tulisan ini, ada satu lagi alasan yang membuatku enggan untuk berpacaran. Alasan yang kutemukan seiring dengan berjalanannya waktu. Alasan yang membuatku bisa bertahan dari berbagai godaan yang datang. Alasan yang membuatku lebih memilih untuk menjawab “tidak”, saat mereka menyatakan keinginannya untuk memilikiku. Alasan yang bisa membuatku bertahan saat virus merah jambu itu datang, menelusup ke dalam jiwa, mencoba menguasai akal, hati dan pikiranku. Hmm, mungkin kalian sudah tahu jawabannya. Yah, sepanjang pengetahuanku, agamaku Islam, tidak mengijinkan pemeluknya untuk menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Walaa taqrabuzzinaa. Dan janganlah kalian mendekati zina.  Ah, kurasa tak perlu kujelaskan panjang lebar lagi. Percayalah kawan, apapun yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan, itulah yang terbaik untuk kita. Tak terkecuali untuk urusan pacaran. Aku yakin, semua larangan yan...

Balada Seorang Pria (Part # 1)

Gambar
Selama kurang lebih 22 tahun aku menjalani hidup, tak pernah sekalipun aku menjalin sebuah hubungan khusus -dengan seorang wanita- yang entah sejak kapan telah menjadi sebuah menu khusus bagi sebagian besar anak muda zaman sekarang. Pacaran, istilah trennya. Bukan karena tak ada satupun wanita yang tertarik padaku kawan, bukan itu. Tidakkah kalian lihat di sana mereka sedang mengantri untuk mendapatkan perhatianku? Ah, tidak. Lupakan. Bukan pula karena aku mempunyai kelainan dengan menyukai sesama jenis. Bukan itu. Sederhana saja kawan. Aku hanya tidak memiliki sebuah syarat wajib yang harus dimiliki oleh mereka yang ingin berpacaran. Modal. Ya, modal. Aku yakin kalian semua tahu kawan, siapapun ia, sepas-pasan apapun tampangnya, kalau ia memiliki dompet yang tebal, bisa dipastikan akan ada wanita yang mau dengannya. Walaupun tak bisa dipungkiri hanya terbatas pada mereka, para matrewati. Namun bagaimanapun juga, setidaknya ia telah berhasil merasakan yang namanya pacaran. Ya...

Aku Memang Bajingan

Sejak dulu, ingin sekali kukatakan: Aku memang bajingan... Aku memang bajingan... Aku memang bajingan... Aku memang bajingan... dan, Aku memang bajingan... Aku memang bajingan... Aku memang bajingan... Aku memang bajingan... karena, Aku memang bajingan... Aku memang bajingan... Aku memang bajingan... Aku memang bajingan...

Sebuah Refleksi

Gambar
Menjadi bagian dari kelompok minoritas memang tak pernah menyenangkan.. Terlebih ketika perbedaan yang ada di antara kaum mayoritas dan minoritas itu telah menyentuh ranah sensitif yang acap kali menimbulkan perselisihan yang nyata.. Mereka yang menjadi bagian dari kelompok minoritas harus siap menerima predikat "aneh" yang disematkan oleh kaum mayoritas.. Lebih dari itu, mereka harus siap-secara fisik maupun mental- menerima perlakuan-perlakuan yang memang seolah menjadi menu wajib para kaum minoritas.. Pengucilan, anggapan remeh, tatapan sinis, atau bahkan cibiran yg secara langsung keluar dari mulut mereka yg telah terjerat fanatisme sempit terhadap kelompok yang dianutnya.. Maka, tekanan-tekanan seakan telah mjadi sesuatu yang akrab mendatangi para kaum minoritas.. Keadaan seperti itu pernah saya hadapi ketika

~Surat Spesial buat Bidadariku~

Gambar
Assalmu’alaikum Wr. Wb. Sayang, Sampai saat aku menulis surat ini, kukatakan dengan sejujurnya, aku sama sekali belum tahu siapakah namamu, secantik apa wajahmu, dari mana kau berasal, dan dimana dirimu sekarang berada. Namun sungguh, surat ini kutulis sebagai bukti keyakinanku akan keberadanmu, belahan jiwa yang telah Allah pilihkankan untukku dan telah tertulis sejak dulu di Lauh Mahfudz.  Sayang, Aku tidak tahu apakah kita sudah pernah berjumpa sebelumnya, atau belum pernah sama sekali. Namun jika kau sedang membaca surat ini, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Sayang, Kau tahu, dunia saat ini sudah begitu kacau. Yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Kedzaliman meraja lela. Pertikaian dan kemaksiatan terjadi di mana-mana. Sungguh menyedihkan. Maka, aku ingin kau berjanji padaku sayang, Bahwa sampai saat kita bertemu nanti, sampai saat aku ucapkan ijab kabulku untukmu di pelaminan kita nanti, berjanjilah...